“Mengatasi Writer's Block"
Resume ke-7
Rabu, 06 Mei 2026
Narasumber: Bapak Muliadi, S.Pd., M.Pd.
Moderator: Ibu Purbaniasita (Sita)
Malam ini, saya
mengikuti kelas di Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34
dengan perasaan yang berbeda. Tema yang dibahas sangat dekat dengan keadaan
saya saat ini, yaitu tentang cara mengatasi writer’s block dan menjaga
konsistensi menulis. Materi yang disampaikan oleh Bapak Muliadi, Kepala SMK
dari Tolitoli sekaligus pegiat literasi, terasa bukan hanya sekadar teori,
tetapi juga penyemangat bagi kami yang sedang kehilangan arah dalam menulis.
Menulis
Itu Harus Dilatih
Pak Muliadi
menjelaskan bahwa menulis bukan soal bakat semata. Kemampuan menulis lahir dari
kebiasaan yang terus dilakukan. Semakin sering menulis, semakin mudah kita
menuangkan ide.
Beliau juga
mengatakan bahwa terkadang menulis memang harus dipaksa di awal. Kalau sudah
terbiasa, menulis akan menjadi kebutuhan, bukan lagi beban. Sesuai pesan Om
Jay, “Menulislah setiap hari dan lihat apa yang akan terjadi.”
Memahami
Penyebab Mandek Menulis
Malam ini saya juga belajar
membedakan antara writer’s block dan burnout.
- Writer’s block terjadi ketika semangat masih ada,
tetapi ide terasa buntu. Kita ingin menulis, namun bingung harus mulai
dari mana.
- Burnout lebih berat lagi karena fisik dan pikiran sudah
benar-benar lelah. Dalam kondisi ini, istirahat menjadi hal yang penting.
Cara
Mengatasi Writer’s Block
Pak Muliadi membagikan beberapa
langkah sederhana agar kita bisa kembali menulis:
- Tulis saja dulu tanpa terlalu memikirkan hasil.
- Jangan langsung mengedit tulisan saat baru mulai.
- Gunakan teknik 10 menit untuk fokus menulis tanpa
gangguan.
- Jauhkan ponsel agar tidak tergoda notifikasi.
- Mulai dari hal paling mudah, misalnya menulis apa yang
sedang dirasakan.
- Menulis sedikit setiap hari lebih baik daripada banyak
tapi jarang.
Pesan
Ada satu kalimat dari Pak Muliadi yang sangat saya ingat:“Penulis bukan dinilai dari seberapa banyak pujian yang diterima, tetapi dari seberapa kuat ia bangkit setelah menerima kritik.”Kalimat itu membuat saya sadar bahwa setiap kritik bisa menjadi pelajaran untuk berkembang. Penulis hebat tidak lahir hanya dari pujian, tetapi juga dari proses jatuh dan bangkit berkali-kali.
Penutup
Pertemuan malam ini memberi
saya semangat baru. Saya memahami bahwa rasa buntu dalam menulis sebenarnya
bisa diatasi jika saya mau terus mencoba. Kritik tentang “Hantu Cangar” tidak
seharusnya membuat saya berhenti, tetapi justru menjadi motivasi untuk belajar
lebih baik lagi.
Terima kasih kepada Bapak
Muliadi atas ilmu dan motivasinya. Terima kasih juga kepada KBMN PGRI yang
terus mendukung kami untuk berkembang. Saya bangga menjadi bagian dari kelas
ini dan siap terus belajar serta menulis tanpa menyerah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar