Kamis, 07 Mei 2026

 

“Mengatasi Writer's Block"

Resume ke-7

Rabu, 06 Mei 2026

Narasumber: Bapak Muliadi, S.Pd., M.Pd.

Moderator: Ibu Purbaniasita (Sita)

Malam ini, saya mengikuti kelas di Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 dengan perasaan yang berbeda. Tema yang dibahas sangat dekat dengan keadaan saya saat ini, yaitu tentang cara mengatasi writer’s block dan menjaga konsistensi menulis. Materi yang disampaikan oleh Bapak Muliadi, Kepala SMK dari Tolitoli sekaligus pegiat literasi, terasa bukan hanya sekadar teori, tetapi juga penyemangat bagi kami yang sedang kehilangan arah dalam menulis.

Menulis Itu Harus Dilatih

Pak Muliadi menjelaskan bahwa menulis bukan soal bakat semata. Kemampuan menulis lahir dari kebiasaan yang terus dilakukan. Semakin sering menulis, semakin mudah kita menuangkan ide.

Beliau juga mengatakan bahwa terkadang menulis memang harus dipaksa di awal. Kalau sudah terbiasa, menulis akan menjadi kebutuhan, bukan lagi beban. Sesuai pesan Om Jay, “Menulislah setiap hari dan lihat apa yang akan terjadi.”

Memahami Penyebab Mandek Menulis

Malam ini saya juga belajar membedakan antara writer’s block dan burnout.

  • Writer’s block terjadi ketika semangat masih ada, tetapi ide terasa buntu. Kita ingin menulis, namun bingung harus mulai dari mana.
  • Burnout lebih berat lagi karena fisik dan pikiran sudah benar-benar lelah. Dalam kondisi ini, istirahat menjadi hal yang penting.

Cara Mengatasi Writer’s Block

Pak Muliadi membagikan beberapa langkah sederhana agar kita bisa kembali menulis:

  1. Tulis saja dulu tanpa terlalu memikirkan hasil.
  2. Jangan langsung mengedit tulisan saat baru mulai.
  3. Gunakan teknik 10 menit untuk fokus menulis tanpa gangguan.
  4. Jauhkan ponsel agar tidak tergoda notifikasi.
  5. Mulai dari hal paling mudah, misalnya menulis apa yang sedang dirasakan.
  6. Menulis sedikit setiap hari lebih baik daripada banyak tapi jarang.

Pesan

Ada satu kalimat dari Pak Muliadi yang sangat saya ingat:“Penulis bukan dinilai dari seberapa banyak pujian yang diterima, tetapi dari seberapa kuat ia bangkit setelah menerima kritik.”Kalimat itu membuat saya sadar bahwa setiap kritik bisa menjadi pelajaran untuk berkembang. Penulis hebat tidak lahir hanya dari pujian, tetapi juga dari proses jatuh dan bangkit berkali-kali.

Penutup

Pertemuan malam ini memberi saya semangat baru. Saya memahami bahwa rasa buntu dalam menulis sebenarnya bisa diatasi jika saya mau terus mencoba. Kritik tentang “Hantu Cangar” tidak seharusnya membuat saya berhenti, tetapi justru menjadi motivasi untuk belajar lebih baik lagi.

Terima kasih kepada Bapak Muliadi atas ilmu dan motivasinya. Terima kasih juga kepada KBMN PGRI yang terus mendukung kami untuk berkembang. Saya bangga menjadi bagian dari kelas ini dan siap terus belajar serta menulis tanpa menyerah.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Rabu malam, 6 Mei 2026, saya mengikuti resume ke-8 KBMN PGRI Gelombang 34 bersama narasumber hebat, MAYDEARLY, yang tampil bak bunga berki...